Posted by: Arnie Suryo | 16 November 2013

Biaya Pernikahan Kewajiban Orangtua, Ahh Itu Dulu

131116A Thinkstock

 

Banyak pasangan yang merasa memiliki cukup uang untuk membiayai pernikahan mereka sendiri. Meskipun demikian, orangtua tentu ingin terlibat dalam membiayai pernikahan anaknya. Sebenarnya tanggungan siapakah biaya pernikahan ini?

“Orangtua pasti ingin (membiayainya). Kalau muslim, ada suatu kewajiban menikahkan anak dan menyiapkan dana menikah,” tutur Perencana Keuangan Lisa Soemarto saat berbincang dengan Wolipop di di Pacific Place, kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (6/10/2013).

Akan tetapi, Anda perlu melihat bagaimana keuangan orangtua saat ini. Misalnya saja orangtua sudah pensiun dan dana yang mereka miliki tidak cukup bila seluruhnya dipakai untuk biaya pernikahan. Belum ditambah adik masih butuh biaya kuliah, sementara Anda serta pasangan sudah memiliki pekerjaan dengan penghasilan besar.

Jika kondisi keluarga tidak memungkinkan, hindari memaksakan mereka agar tetap mewujudkan impian pernikahan Anda. “Nggak fair juga kan kalau terlalu mengharapkan orangtua. Jadi kalau memang anak sudah memiliki kemampuan uang sendiri, sebaiknya menyiapkan dana sendiri,” tambah Senior Partner dan Advisor di Akbar’s Financial Check-up itu.

Serupa dengan ungkapan Lisa, Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi.M.Si. juga mengatakan hal demikian dan lebih baik disepakati bersama. Kesepakatan tersebut harus dibicarakan secara terbuka dan asertif. Sikap yang asertif berarti mengemukakan semua pikiran Anda secara terbuka tanpa menyakiti orangtua.

Hindari bersikap agresif atau submisif ketika berdiskusi dengan orangtua. Sikap agresif merupakan sikap menunjukkan keterbukaan Anda dengan cara menyakiti orang lain. Sebagai contoh, saat orangtua menuntut banyak hal dalam pernikahan, Anda bukan mendengarkannya dahulu, tapi langsung marah-marah mengatakan bahwa Anda tidak setuju. Ini tentu bisa melukai perasaan mereka.

Sedangkan submisif berarti tidak berani mengemukakan pendapat karena khawatir menyakiti atau mengecewakan orang lain sehingga lebih baik memendamnya sendiri. Misalnya, Anda lebih baik berhutang karena biaya pernikahan di luar budget akibat permintaan-permintaan orangtua, ketimbang harus mengutarakan keberatan akan hal tersebut. Ini juga tidak baik, selain merugikan diri sendiri, orangtua akan kecewa ketika tahu Anda berhutang demi keinginan mereka.

“Nah yang disarankan asertif, menyampaikan angka-angkanya yang diminta sekian dan terus terang hanya punya dana sekian,” ujar Nina saat diwawancarai Wolipop di Gedung Graha CIMB Niaga, kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (4/10/2013).

 

sumber: wolipop.com & Thinkstock


Tinggalkan komentarmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: